Lupa Rasanya Aroma Liga Champions Asia? Yuk, Nostalgia!
Ngomongin Liga Champions Asia, pecinta bola Indonesia kebanyakan langsung teringat gebrakan klub-klub dari Jepang, Korea Selatan, atau bahkan Arab. Wajar saja, mereka memang langganan jadi penghuni papan atas. Tapi, jangan salah. Jauh sebelum nama-nama besar itu mendominasi, pernah ada masa di mana bendera Merah Putih juga berkibar di turnamen prestisius ini. Ya, tim-tim Indonesia pernah lho berlaga di kasta tertinggi kompetisi klub se-Asia. Jujur saja, kadang saya penasaran, bagaimana rasanya ya kalau kita bisa kembali melihat itu?
Momen Emas di Awal Milenium
Kalau ditanya kapan momen itu terjadi, jawabannya ada di awal tahun 2000-an. Tepatnya, format Liga Champions Asia yang kita kenal sekarang baru bergulir sejak musim 2002/2003. Nah, beberapa klub Indonesia sempat merasakan atmosfer pertandingan melawan tim-tim kuat dari negara tetangga. Salah satunya adalah Persik Kediri. Masih ingat kiprah mereka? Di musim 2007, Macan Putih—julukan mereka—berhasil menembus babak playoff Liga Champions Asia. Meskipun langkahnya terhenti di sana setelah kalah dari Tianjin Teda dari Tiongkok, pengalaman ini tetaplah sebuah pencapaian berarti. Ini bukan sekadar partisipasi, tapi sebuah pembuktian bahwa tim Indonesia punya potensi bersaing di level Asia.
Bukan Sekadar Angka Partisipasi
Selain Persik, ada juga tim lain yang pernah mencicipinya. Sebut saja PSM Makassar. Di tahun 2005, Juku Eja menjadi salah satu wakil Indonesia yang tampil di ajang ini. Mereka sempat berhadapan dengan klub-klub seperti Bucheon SK dari Korea Selatan dan Shanghai Shenhua dari Tiongkok. Sempat juga ada Persebaya Surabaya. Pada musim 2007, tim kebanggaan Bonek ini juga berjuang di playoff, meski akhirnya mereka tak lolos ke fase grup. Kehadiran mereka di kompetisi sekelas Liga Champions Asia ini jadi bukti nyata bahwa Indonesia pernah punya perwakilan yang mumpuni di panggung Asia.
Tantangan yang Terus Menghadang
Namun, setelah era itu, jejak klub Indonesia di Liga Champions Asia semakin menipis. Peringkat Indonesia di ranking AFC yang menurun menjadi salah satu faktor utamanya. Padahal, kalau kita tengok generasi emas timnas dulu, semangat juang mereka tak kalah. Kalau saja kompetisi domestik kita stabil dan pembinaan pemain berlanjut dengan konsisten, bukan tidak mungkin kita bisa melihat wakil Indonesia kembali berlaga di sana. Saya pribadi berharap, para pengurus sepak bola kita bisa mencermati kembali apa yang kurang dan bagaimana kita bisa bangkit. Jangan sampai kita hanya bisa mengenang masa lalu.
Kapan Garuda Kembali Berkibar di Asia?
Melihat kembali sejarah klub Indonesia di Liga Champions Asia memang membuka mata. Kita pernah punya kesempatan untuk unjuk gigi di panggung tertinggi. Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun, tapi lebih kepada refleksi. Apa yang perlu dibenahi dari sisi manajemen klub, pembinaan usia muda, hingga kompetisi domestik agar standar permainan kita bisa terus meningkat? Menurut saya, tantangan ini harus kita hadapi bersama sebagai pecinta sepak bola Indonesia. Kapan ya kita bisa melihat lagu kebangsaan berkumandang di stadion sebelum laga tim Indonesia di Liga Champions Asia? Semoga saja tidak terlalu lama.
Baca juga:














Leave a Reply